Beranda | Artikel
Batasan dalam Ilmu Perbintangan dan Sikap Terhadap Fitnah
8 jam lalu

Batasan dalam Ilmu Perbintangan dan Sikap Terhadap Fitnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 18 Rajab 1447 H / 7 Januari 2026 M.

Kajian Islam Tentang Batasan dalam Ilmu Perbintangan dan Sikap Terhadap Fitnah

Hal-hal selain kepentingan tersebut hendaknya ditinggalkan karena dapat mengantarkan pada kekufuran, kezindikan, dan kesyirikan. Wasiat ini disampaikan oleh Imam Al-Barbahari Rahimahullah di akhir pembahasan kitabnya, dengan menekankan kembali kewajiban bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kembali kepada al-amrul atiq (perkara yang awal).

Berpegang Teguh pada Jalan Sahabat

Umat Islam wajib kembali kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mengenai identitas kelompok yang selamat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa mereka adalah yang mengikuti jalan beliau dan para sahabat:

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya hari ini.” (HR. Tirmidzi).

Perkara inilah yang disebut sebagai al-amrul atiq. Umat dilarang membuat perkara-perkara baru dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa memperingatkan dalam setiap khotbahnya:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ

“Dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama.” (HR. Abu Dawud).

Imam Al-Barbahari juga memperingatkan kaum Muslimin untuk tidak ikut serta dalam berbagai fitnah, perselisihan, peperangan, serta perebutan dunia dan kekuasaan. Sikap seorang Muslim yang benar adalah menjauh dari fitnah tersebut, karena orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang dijauhkan dari fitnah. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.” (HR. Abu Dawud).

Fitnah bukanlah untuk didekati atau dikomentari, terlebih jika komentar tersebut justru memperkeruh suasana.

Hukum Mempelajari Ilmu Perbintangan

Terdapat batasan dalam melihat bintang, yaitu hanya untuk keperluan menentukan waktu-waktu salat. Para ulama membagi ilmu perbintangan menjadi dua, yaitu yang dibolehkan dan yang dilarang. Ilmu yang dibolehkan disebut ilmut tasyir, yaitu mempelajari pergerakan bintang untuk mengetahui:

  • Waktu-waktu shalat.
  • Pergantian musim.
  • Waktu yang tepat untuk bercocok tanam.
  • Arah kiblat dan keperluan duniawi lainnya.

Pengetahuan ini dibolehkan, bahkan terkadang diharuskan demi kemaslahatan ibadah dan kehidupan. Imam Qatadah Rahimahullah menyatakan tujuan penciptaan bintang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara: menjadikannya sebagai perhiasan langit, sebagai alat pelempar setan, dan sebagai tanda-tanda penunjuk arah. Siapa pun yang mencari tujuan selain perkara tersebut, berarti ia telah melakukan kesalahan, menyia-nyiakan nasibnya, dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak diketahuinya.”

1. Perhiasan Langit Dunia

Salah satu tujuan diciptakannya bintang adalah untuk menghiasi langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia dengan hiasan bintang-bintang.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 6).

2. Alat Pelempar Setan

Bintang juga berfungsi sebagai alat untuk melempar setan-setan yang berusaha mencuri pendengaran dari pembicaraan para malaikat di langit. Informasi yang mereka curi kemudian disampaikan kepada tukang sihir atau dukun dengan ditambahi seratus kebohongan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

“Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan lampu-lampu (bintang-bintang), dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk[67]: 5).

3. Petunjuk Arah

Bintang menjadi tanda bagi manusia untuk mengetahui arah dalam perjalanan mereka, baik di daratan maupun di lautan.

Larangan Mengaitkan Bintang dengan Takdir

Setiap Muslim harus meninggalkan hal-hal selain ketiga fungsi tersebut. Terutama sikap bergantung pada bintang-bintang, seperti menisbatkan turunnya hujan atau mengaitkan kejadian-kejadian di dunia dengan pergerakan bintang.

Beberapa bentuk penyimpangan dalam hal ini meliputi keyakinan bahwa:

  • Keselamatan atau bahaya dalam perjalanan bergantung pada munculnya bintang tertentu.
  • Kebahagiaan, kekayaan, kesuksesan, atau kesengsaraan seseorang ditentukan oleh bintang kelahirannya.
  • Keberhasilan hidup rumah tangga dipengaruhi oleh waktu pernikahan berdasarkan posisi bintang.

Perkara-perkara tersebut dilarang karena dapat mengantarkan pada kesyirikan dan sering digunakan oleh tukang sihir.

Penulis kitab ini memperingatkan untuk membatasi diri dalam memperhatikan bintang. Pengamatan hanya dibolehkan untuk keperluan ibadah dan kemaslahatan duniawi, seperti:

  • Menentukan waktu-waktu shalat.
  • Mengetahui waktu terbit, tergelincir, dan tenggelamnya matahari.
  • Menentukan arah kiblat.
  • Mengetahui pergantian musim untuk waktu bercocok tanam.

Seseorang yang bergantung dan menisbatkan kejadian-kejadian di dunia pada pergerakan bintang telah melakukan perbuatan yang mengarah pada kesyirikan dan sihir. Hal ini merupakan perkara berbahaya yang bahkan dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Batasan dalam Ilmu Perbintangan dan Sikap Terhadap Fitnah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55966-batasan-dalam-ilmu-perbintangan-dan-sikap-terhadap-fitnah/